Goes To Dempo Pagar Alam Sumatra Selatan

Desember 08, 2014 ahmadari 0 Comments



Sebulan sebelum keberangkatan. Ketika aku,debi,bayu, deki,fadil dan daus sedang duduk santai disebuah kantin kampus di Fe unsri. Pada saat itu kami memikirkan sesuatu hal yang belum kami lakukan dan langsung terfikir yaitu mendaki puncak gunung dempo di pagar alam. Kami semua sepakat untuk mendaki gunung dempo pada saat itu. Lalu kami mempersiapkan diri kami, baik dari segi peralatan maupun fisik sekaligus finacial kami. Kesepakatan untuk pergi kesana yaitu tanggal 5-7 desember 2014.

Setelah 2 minggu kami ujian akhir semester 5 kami langsung pergi ke pagar alam tanggal 5 desember 2014 dengan menggunakan bus telaga biru. Walaupun namany telaga biru bus nya nggak begitu biru-biru amat. Tepat pukul 15.00 kami langsung berangkat, jalan yang berkelok-kelok membuat teman-teman yang lainnya mabuk. Setelah hampir 8 jam perjalanan dari indralaya, kami setibanya disana pukul 23.00 dengan dijemput leader kami untuk singgah di basecam. Kami diberi pengarahan apa  saja yang harus diperhatikan dan apa yang harus dibawa keatas puncak gunung nantinya. Sekitar pukul 01.00 kami istirahat.


Keesokan hari nya saya, debi,deki,endang,bayu,arif,daus,fadil menyiapkan diri seperti mandi dan bab. Air disana sangat dingin dan keadaan tersebut membuat saya untuk memaksakan diri untuk mandi karena pasti diatas gunung sulit untuk mandi. Pas mau berangkat saya merasakan hal2 yang aneh2 yang menggerutu diperut saya, sakit perut men mulessss !! -_-
Dari basecam lalu kami menyewa sebuah angkot daerah setempat untuk mencapai pintu rimau yang sangat terkenal pada saat PON 2004 dahulu. Jalan yang berliku-liku di iringi dengan kebun teh yang hijau saya merasa sangat senang dengan keadaan tersebut karena saya belum pernah mendapatkan hal-hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Setiba disana sekitar 1 jam lebih pukul 8.00 wib cuaca yang mendung dan dingin mengantarkan kami tiba disana. Sebelum mendaki kami mengabadikan momen-monen untuk berfoto disana.


Pukul 9.30 kami berangkat, dengan diiringi doa dan pemanasan yang sederhana kami bersiap-siap untuk mendaki. Awal-awal tracking jalan tidak terlalu ektrem, saya merasa terengah-engah karena terlalu cepat untuk mendaki kesana. Melalu jalan-jalan setapak yang banyak akarnya kami menelusuri jalan tersebut. Tiba dishalter 1 kami beristirahat sejenak untuk menabah energi. Keadaan disana terdapat kabut yang udaranya sangat segar sekali yang tak saya dapat kan dikota ini. Keringat yang saya keluarkan pun menjadi dingin. Lama-lama jalan yang kami lalui terus menanjak tajam, semuanya sekitar 80 derajat hampir berbentuk siku-siku, tanah yang lembab dan udara yang sejuk menandakan ciri khas dari hutan hujan tropis. Kemudian kami lanjut ke shalter 2 sebelum kesana kami harus melalui 3 sub selter. 


Ketika kami tiba di sub selter 2 kami berlindung sejenak karena hujan mengiringi perjalanan kami menuju puncak, kami mempersiapkan jaket jas hujan untuk melindungi badan kami dari kedinginan air hujan yang suhunya seperti air didalam kulkas. Kami yang diberi nama team 9 terus melaju meskipun hujan menghadang kami untuk terus mendaki. Keadaan hujan yang dingin memberikan semangat kepada kami sampai ke puncak.
Kami melewati jalur tracking yang sangat ekstrem seperti memanjak papan tebing yang sangat curam. Track yang licin membuat beberapa anggota team terpeleset, kami melewati tali 0,1,2,3 yang paling sulit menurut saya adalah tali 2 yang sangat tinggi jika melihatnya dari bawah. Entah ada energi dari mana yang membuat keaadaan yang tak masuk akal tersbut membuat kami bisa mendaki nya.
Setelah rintangn tali yang kami lewati kami melalui hutan harry poter hehe memang mirip sih dengan hutan harry poter yang ada di filmnya. Melewati jalan yang berlumut sungguh tak saya dapatkan sebelumnya dimanapun.
Keadaan dingin yang menimpa saya dan teman-teman membuat saya tidak sabar untuk sampai dipelataran. Saya merasakan angin yang sangat kencang yang terus berhembus sekaligus kabut yang mengiringi kami. Leader kami memberikan suara yang membuat kami semangat, allahuakbarrrr!! Lalu kami terus berjalan dan melihat sebuah pelataran dan puncak gunung demponya.  WAWWW kata yang pertama saya ucapkan disana, walaupun keadaan yang belum memungkinkan kami untuk melihat puncak nya karena tertutupi awan kabut.

Setiba nya disana badan yang menggigil dan keras untuk berjalan kami membuat dempo bersama kak sandi selaku leader kami, tenda dua buah yang kami buat langsung kami jadikan basecam sementara kami. Mengganti baju yang basah dengan yang kering agar badan kami tidak terlalu kedinginan. Makanan seadanya seperti roti dan mie menjadi andalan kami ketika disana, karena tidak ada makanan lain sih, yang kami fikirkan saat itu cuman nasi bude(nasi dekat dengan kosan yang  murah) hehee.
Malam yang panjang kami lalui sekaligus hujan yang mebuat kami tambah kedinginan, sleeping bag yang kami milikipun tembus dan menusuk-nusuk jari jemari yang membuat kami sulit tidur. Diiringi dengan banyolan para anak-anak kaula muda mengantarkan kami kepada pagi hari.

Ketika pagi kami belum bisa melihat matahari yang kami tunggu-tunggu muncul diatas, namun kami tetap semangat dengan penuh pesimis menantinya. Sekitar pukul 7.30 kami memanjak pelataran disana mendaki melewati pohon panjang umur sebagai ciri khas dari flora disana. Mendaki dengan tracking berbatuan yang tidak memiliki pegangan. Aluanan awan-awan yang bergelombang menambah semangat kami untuk melihat puncak disana. Pandangan yang luas memberikan saya hal-hal yang indah dan terlihat sebagai lukisan alam yang sangat luar biasa menakjubkan yang dihadirkan untuk kami melihatnya. Awan yang biru seakan menandakan ucapan selamat datang kepada kami.




Kemudian saya bersama teman-teman tiba dikawah, sangat luar biasa ciptaan tuhan yang satu ini, saya besujud melihat alam yang sangat indah ini, warna kawah tosca yang menyambutkami ketika sudah diazan kan.










Sebelumnya kawah yang kami lihat itu tertupi oleh awan tebal namun setelah diadzan kan awan-awan-awan yang munutupi disana berlari sekakan akan memberikan kami tempat untuk melihat nya. Angin yang kuat membuat saya takut untuk mendekati terlalu dekat dengan bibir kawahnya. Angin sangat dingin membuat bibir saya menjadi keras hahaa. Namun sebuah kebanggaan yang saya dapatkan ketika saya mendaki gunung dempo dan melihat kawah tersebut. Diatas sana saya bisa melihat seluruh penjuru mata angin, begitu megah nya kekayaan alam yang kita miliki sebenarnya.

kemudian kami langsung bergegas untuk pulang menyiapkan segala peralatan yang harus dibawa pulang ke basecam kembali. Pukul 11.00 Dengan melalui jalur yang sama namun kebalikannya kami harus menuruinya. Dengan berhati-hati kami terus menuruni dengan tumpuan tumit yang sangat sakit rasanya dari pada harus mendaki. Sandal saya putus salama perjalanan walaupun demikian saya merasa memiliki kenangan yang sangat luar biasa disana. Setibanya dibawah pintu rimau saya merasa bangga kepada diri saya pribadi karena tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk mendaki puncak gunung dempo di pagar alam. Butuh kekuatan, kesabaran dalam menjalani dan mendapatkan sesuatu yang indah seperti ini, hidup tak ada yang instan semua butuh proses yang baik untuk menghasilkan hasil yang baik pula. Terimakasih Gunung dempo Sampai berjumpa lain waktu. Aku selalu menginginkan untuk kembali lagi


“Semua tak ada yang instan kecuali mie instan, semua ada proses dan hasil nya sesuai dengan proses yang dilalui”
Ahmad Ari Yansyah
(pagar alam 5-7 Desember 2014)

Thanks to:
Kak Sandi DKK
Team 9 (Ari, debi,deki,fadil,daus,endang,bayu,arif)
Semoga sukses buat kalian semoga bisa mengambil makna perjalanan kita.

0 comments: